Friday, February 10, 2017

Penyebab Konflik Indonesia & Malaysia (Analisa Lengkap)

Konflik antar negara tetangga sangat lumrah terjadi, karena setiap aktivitas kedua negara di berbagai bidang selalu beririsan dan bergesekan. Kita sering mengenal berbagai konflik antar negara yang berdekatan, misalnya saja konflik korea utara dan korea selatan, dulu konflik jerman barat dan jerman timur. 

Pada kesempatan kali ini kita juga akan membahas konflik politik yang dialami bangsa kita Indonesia dengan negara tetangga yakni Malaysia. Konflik kedua negara ini selalu berulang, memanas, mereda, dan memanas lagi tanpa henti. Maka dari itu penting bagi kita untuk memahami apa sih penyebab utamanya dari konflik politik yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Berikut ini ulasan lengkapnya. 


Dari analisa kami setidaknya ada 4 faktor penyebab utama / sumber konflik politik antara Indonesia & Malayasia, meliputi : 

1. Politik Konfrontasi Malaysia Era Soekarno

Konfrontasi ini merupakan sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.

Pada tahun 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia.

Soekarno yang murka ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Dan Pada tahun 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya.

Berdasarkan ilustrasi diatas dapat dipetik kesimpulan bahwa telah terjadi bibit-bibit permusuhan antara Malaysia dengan Indonesia.

2. Kasus Klaim Batik dan Iklan Kesenian & Budaya

Kasus klaim sepihak batik dan tari Pendet yang digunakan sebagai iklan Enigmatic Malaysia di Discovery Channel menimbulkan akumulasi ketidaksenangan rakyat Indonesia terhadap Malaysia. Sikap tidak senang Indonesia diwujudkan dalam bentuk nota protes resmi Kemenlu RI kepada Pemerintah Malaysia.

3. Kasus TKI di Malaysia

Seringkali kita mendengar dan membaca tentang nasib TKi di Malaysia yang disiksa dan dianiaya majikannya. Dan biasanya, ujung-ujungnya Pemerintah Malaysia akan lebih memihak warga negaranya sendiri (majikan) ketimbang memproses secara hukum. Dengan sering ter-eksposenya cerita-cerita sedih para TKI di Malaysia, membuat bibit-bibit permusuhan menjadi semakin besar dan luka lama semakin menganga.

4. Kasus Wilayah Perbatasan

Bangsa ini mungkin tidak akan pernah lupa, bagaimana Sipadan dan Ligitan telah direbut oleh Malaysia. Bagaimana kita menjadi tidak berdaya dan babak belur di Mahkamah Internasional. Tentu ini adalah pengalaman yang sangat menyesakkan dan menyakitkan bangsa Indonesia.

Menurut Suhana, Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Malaysia ada di balik kasus perairan Bintan. Ia mengatakan bahwa :” Hal ini dimaksudkan apabila tidak ada tindakan protes dari aparat Indonesia, mereka dapat mengkalim bahwa perairan tersebut merupakan wilayah kedaulatannya”.

Dugaan tersebut dikuatkan dengan cepatnya Marine Police Malaysia mengadang kapal Pengawas Kelautan dan Perikanan yang menangkap para nelayan yang sedang mencuri ikan tersebut. Yang akhirnya tiga aparat Pengawas Kelautan dan Perikanan Indonesia turut ditahan oleh Marine Police Malaysia.

Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan tersebut, perilaku tidak menyenangkan Malaysia yang dimulai dari kasus Sipadan dan Ligitan serta perairan Bintan semakin menumpuk perilaku menyakiti bangsa Indonesia.

Secara sosiologis, akumulasi perasaan tidak puas, kecewa dan frustrasi dapat terwujud atau terealisasi dalam bentuk aksi kekerasan atau perlawanan senjata.

Maurice Duverger menyatakan, bahwa : “bilamana orang-orang tertentu bergolak untuk meluputkan diri dari suatu kondisi yang celaka, dari suatu dunia kekurangan dan alienasi dan ketika yang lain bergolak untuk menghindarkan diri dari jatuh ke dalam kesulitan yang sama adalah wajar untuk setiap orang mempergunakan setiap alat yang bias diperolehnya, termasuk kekerasan, untuk mempertahankan previlage melawan serangan dari mereka yang tertindas dan dieksploitasikan dan menjamin kemenangan”.

Seperti yang terjadi pada masyarakat Indonesia, kondisi ketidakpuasan dan kemarahan tersebut menjelma menjadi tindakan penghujatan, pelemparan kotoran binatang, menginjak-injak bendera nasional yang disertai aksi pembakaran bendera. Dengan kata lain, ketidaksenangan bangsa Indonesia terhadap Malaysia telah bertumpuk-tumpuk.

KESIMPULAN 
Kesimpulannya, konflik yang terjadi tidak disebabkan oleh satu-satunya factor kasus perairan Bintan namun lebih dari itu. konflik yang terjadi antara malaysia dengan Indonesia disebabkan oleh akumulasi ketidaksenangan masyarakat Indonesia akibat perilaku “menyakiti” yang dilakukan Pemerintah Malaysia dalam kasus politik konfrontasi Malaysia era Soekarno, kisah haru pahlawan devisa nasional (TKI), kasus klaim sepihak batik dan iklan kesenian & budaya oleh discovery channel serta masalah perbatasan negara.

Semoga di generasi yang akan datang, tidak terjadi trauma dalam berhubungan dengan Malaysia. Atau trauma ini membuat kita harus lebih berani bertindak, bahkan dalam bentuk yang ekstrem, yaitu sudah siapkah anda menjadi relawan dalam perang Indonesia melawan Malaysia ?

Baca Juga : 
  1. Pengertian Konflik & Konflik Politik
  2. Contoh Konflik Politik di Indonesia
  3. Contoh Konflik Politik di Malaysia 
  4. Konflik Rohingya (Konflik SARA dengan duka yang tak berujung)

Terimkasih sudah berkunjung, mari berdiskusi di blog kami. Kajian Politik itu seru dan dinamis. Jadi, lihatlah disekeliling anda, fenomena politik akan senantiasa kita jumpai.
EmoticonEmoticon