Wednesday, November 25, 2015

Penyebab Konflik




Penyebab Konflik - Bagaimana sudah faham tentang pengertian konflik? kali ini kita akan membahas penyebab konflik itu terjadi. Sebagai suatu pertentangan dalam kehidupan, konflik tidak serta merta hadir begitu saja, konflik sering kali dipicu oleh faktor pemicu yang menyebabkan konflik timbul dan meningkat eskalasinya. 

Konflik terjadi manakala terdapat benturan kepentingan. Dalam rumusan lain dapat dikemukakan konflik terjadi jika ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil manakala pihak berperilaku menyentuh “titik kemarahan” pihak lain. Dengan kata lain, perbedaan kepentingan karena kemajemukan vertikal dan horizontal merupakan kondisi yang harus ada (necessary condition) bagi timbulnya konflik, tetapi perbedaan kepentingan iu bukan kondisi yang memadai (suffcient condition) untuk menimbulkan konflik. (Surbakti,Ramlan, 2010 : 194)

Penyebab konflik menurut para ahli diantaranya dikemukakan oleh Yudistira K. Garna, (1992 : 65) penyebab konflik didasarkan oleh beberapa sebab, diantaranya


Perbebdaan individu, yang meliputi perbedaan pendiriian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesutu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalanya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang yang merasa terganggu karena fisik, tetapi ada yang terhibur.

Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda.
Seseorang sediki banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikirnya dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

Perbedan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memilki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalkan perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menganggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani meneang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat ladang atau kebun. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang kemudian diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainya sehingga mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik  akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara buruh dan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentigan diantara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbear bidang serta volume usaha mereka.

Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah suatu lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya pada masyarakat desa yang mengalami industrialisasi yang mendadak akan memunculkan monflik ssosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti mendi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaan.

Sementara pendapat lain yakni menurut Paul Conn (dalam Ramlaln Surbakti, 1992:151-152), penyebab konflik ada dua yaitu mencangkup kemajemukan horizontal dan vertikal. Kemajemukan horizontal kultural dapat menimbulkan konflikarena masing-masing unsur kultural berupaya mempertahankan identitas dan karakteristik budayanya dari ancaman kultur lain. Dalam masyarakat yang berciri demikian ini, apabila belum ada konsesus nilai yang menjadi pegangan bersama, konflik politik karena benturan budaya akan menimbulkan perang saudara ataupun gerakan sparatisme.(dalam skripsi Helmi, Fuad, 2011 :12-15).
Baca Juga : Jenis-Jenis Konflik

Terimkasih sudah berkunjung, mari berdiskusi di blog kami. Kajian Politik itu seru dan dinamis. Jadi, lihatlah disekeliling anda, fenomena politik akan senantiasa kita jumpai.
EmoticonEmoticon